Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

SHALAT JUMAT PERTAMA DI SAINT PETERSBURG

Sudah dua minggu saya tidak shalat Jumat. Absen saya di minggu pertama karena baru tiba di kota ini, St Petersburg Florida.  Saya masuk ke apartemen pukul 12:00, pada hari Jumat, sedangkan lokasi masjid saya juga belum tahu. Setelah perjalanan yang melelahkan dari Jakarta ke St Petersburg, badan saya sudah sangat perlu tidur. Hari itu saya tertidur dari pukul 13:00 hingga pukul 19:00 malam. Badan saya rasanya seperti tidur jam 01:00-07:00 pagi hari.

Jumat kedua saya absen karena saya salah menerima informasi di internet. Menurut situs Islam di internet, bahwa hasil kesepakatan para tokoh dan pengurus masjid di Florida Iedul al Adha dirayakan hari Sabtu. Hari Jum’at saya pergi ke masjid terdekat, di 6 St S (Sixth street) yang bertemu dengan 22 Ave  S (22nd avenue).  Saya tinggal di 21st Ave S yang dkat perempatan dengan 3rd St S, sehingga dapat berjalan kaki ke Masjid Assunah tersebut. Tetapi pada hari Jum’at tersebut di Masjid assunah sepi sekali. Besoknya saya mencoba ke Masjid Al-Mukmin yang berjarak sekitar 5 km dari apartemen dengan naik bis di pagi yang sangat dingin. Saya berharap dapat Shalat Iedul Adha bersama muslimin di sini. Kamera handycam sengaja saya beli untuk membuat gambar bersejarah tersebut. Ternyata masjid yang sekaligus kantor Islamic center tersebut kosong melompong. Sayapun kembali dengan tangan hampa.

Hari Jumat ini saya tidak mau kecolongan lagi. Bagaimana perasaaan saya jika sudah tiga kali tidak shalat Jumat? Sejak Senin saya sudah pesan pada Pamela (professor saya di USF) bahwa tidak ingin ketinggalan Jumat yang ketiga-kalinya sehingga tidak mau ada jadwal ke kampus. Hari Jumat ini saya tidak ke kampus. Pukul 10:00 mulai mandi Jumat dan berangkat sekitar pukul 10:15, dengan harapan sampai di masjid pukul 11:00. Saya ingin lebih awal ke masjid karena merasa perlu berkenalan dengan pengurus masjid dan warga muslim lain di sini.

Saya pergi ke masjid naik sepeda kayuh. Dengan naik sepeda dapat menentukan jadwal sendiri daripada menggantungkan jadwal pada jadwal bis  Saya perkirakan perlu waktu 30 menit untuk mencapai ke sana. Saya tinggal di dekat  3rd St S sedangkan masjidnya ada di 38 St S, jadi ada sekitar 35 blok (3,5 km) dari rumah. Masjid al Mukmin terletak di 18th Ave S, sedangkan saya di 21st Ave S sehingga saya juga harus bergeser ke a rah utara sekitar tiga blok. Tiga puluh menit mestinya cukup untuk ke masjid. Sambil mengayuh sepeda saya berencana belanja di sweet Bay Supermarket yang saya lewati. Beras, the, gula dan daging di rumah sudah habis.

Tidak lama setelah melewati supermarket tersebut roda belakang bergoyang. Setelah saya periksa ternyata kempe total. Ada pecahan botol yang menancap di dalam ban sepeda. Sempat terpikir akan naik bis bersama membawa sepeda tetapi karena tidak punya jadwal bis maka pikiran tadi disingkirkan. Bis yang lewat 18th Ave S hanya sebuah setiap jam.  Jika tidak punya jadwalnya maka bisa jadi saya harus menunggu hampir satu jam. Sayapun mendorong sepeda kemps ban tersebut hingga masjid sejauh 18 blok, atau sekitar 1,8 km. Di musim dingin yang basah ini gerakan mendorong sepeda dapat meningkatkan suhu tubuh.

Saya sampai di depan masjid pukul 11:35. Bangunan masjid al Mukmin sebenarnya tidak dapat dibedakan dengan bangunan rumah atau pertokoan di sekitarnya. Lebih mirip bangunan sebuah kantor. Tampak ada lampu menyala di dalam masjid, tetapi ketika saya mendekat ternyata pintu terkunci. Sayapun menunggu ada orang yang membuka pintu tersebut di depan masjid. Angin yang berhembus membuang kehangatan badan dari mendorong sepeda. Sayapun semakin kedinginan. Niat saya membanggakan baju taqwa (koko) di Amerika saya batalkan. Saya ambil jaket di ransel dan memakainya. Ini ternyata belum cukup. Saya masih harus berlindung dari terpaan angin dingin di bulan Desember.

Pukul 12:30 belum ada orang yang datang ke masjid. Muncul kekhawatiran jangan-jangan masjid ini tidak digunakan shalat Jumat. Saya baca kembali jadwal yang terpampang pada papan nama Masjid al Mukmin. “Friday Pray 13:00 winter 13;30 summer”, entah untuk yang keberapa kalinya. Di Masjid Assunah saya boleh khawatir nggak ada shalat Jumat karena tidak ada tulisan apapun di sana. Di masjid al Mukmin yang sudah jelas tertulis jadwalnya juga masih membuat saya khawatir. Hilangnya kesempatan dua kali shalat Jumat sebelumnya merupakan factor X yang membolehkan kekhawatiran saya. Ada dua buah mobil berselang sekitar 10 menit yang saya pikir mau belok kea rah masjid, ternyata ke jalan di sebelahnya.

Sekitar pukul 12:37 baru sebuah mobil memasuki pekarangan masjid. Alhamdulillah. Pengemudi mobil turun dan engucapkan salam kepada saya yang kedinginan di depan pintu masjid. Brother Akmal adalah seorang pengurus masjid yang membuka dan menutup masjid ini. Saya disuruh masuk ke dalam masjid sebelum dia kembali memarkir mobil. Begitu masuk bangunan, maka kita berada seperti diruang tamu sebuah rumah yang juga menyediakan pembelian sajadah, Qur’an, dan sejumlah perlengkapan ibadah lainnya. Di sebelah ruangan tamu tersebut terdapat sebuah ruang dengan peralatan kantor yang menjadi kantor Islamic Center. Masjid al Mukmin mempunyai jadwal belajar bahasa Arab, belajar membaca al-Qur’an, dialog antar agama, dan sejumlah pertemuan rutin lainnya. Semua jadwal terpampang di papan nama yang berwarna hijau.

Setelah berwudhu di belakang, saya shalat tahiyatul masjid dan duduk berdzikir. Sejumlah orang kemudian mendatangi masjid sehingga semakin ramai. Saya perhatikan ada sebagian jamaah yang sulit duduk tahiyat, ketika mereka shalat sunat tahiyatul masjid.  Lima menit menjelang pukul 13:00,  seorang berkulit hitam usia 30-an berdiri dan mengumandangkan adzan. Lagunya aneh tetapi tersa nikmat di telinga. Ketika membaca “haiyya ala shalah”, misalnya, ia memperpanjang pada kata “haiyyaaaaa” sedangkan di Indonesia atau di Arab lazimnya yang dipanjangkan adalah kata “shalaaaaaah”. Muadzin tersebut kemudia mendatangi saya. Saya lebih dulu memperkenalkan diri. “My name is Imam from Indonesia”. Dia menyahut sambil tetap tersenyum. “My name is Azis, Haji Azis”. Sayapun tersenyum dan membalas “Haji Imam”.  Kamipun tertawa kecil. Saya cepat ambil kamera handycam dan mulai merekam gambar karena jamaah sudah mulai berdatangan.

Brother Akmal kemudian mendekati saya dan mengatakan “Brother Imam, you should hod-up your camera now”. “I am sorry brother, I don’t know what do you mean by hold-up?”. “Alright, you should stop taking picture with your camera now”. “Ok brother Akmal.” Beberapa menit kemudian Brother Azis mengumandangkan adzan kedua. Setelah itu jamaah shalat sunat dan khotbah Jumat dimulai. Khatibnya seorang kulit hitam yang memang sudah lama tinggal di Florida. Khutbahnya tentang perjalan hidup manusia yang semuanya akan berujung pada kematian, sehingga kita harus  mempersiapkan diri sebelum maut menjemput kita.

Setelah shalat Jumat selesai saya mendengar Brother Akmal menanyakan kepada khatim (imam) apakah saya boleh mengambil gambar lagi. Akmal kemudian mendekati saya dan mengatakan bahwa sekarang ambil gambar sepuasmu di sini. Sayapun ambil kamera dan merekam adegan percakapan antar jamaah selesai shalat Jumat. Pada kesempatan ramah tamah tersebut saya sempat mendekati khatib dan menyatakan “It was avery good speech”. “Alhamdulillah brother”, sahut pak khatib. “Do you understand my speech? “Sure brother, I can listen better than speaking”. “Alhamdulillah”, sahutnya sambil tersenyujm senang. Saya juga berkenalan dengan Ghulam yang keturunan Pakistan. Ia menawarkan tumpanagn mobil kepada saya. Tetapai setelah tahu bahwa saya bawa sepeda yang bannya kempes, ia member saya tulisan nomor telponnya untuk memberikan tumpangan ke masjid minggu depan.

Saya pulang dari masjid dengan naik bis kota yang disini namanya Commuter Bus, nomor 14. Setiap bis kota mempunyai tempat sepeda di depan bempernya. Temat tersebut hanya cukup untuk dua sepeda saja. Setelah menunggu di depan masjid dittemani seorang mahasiswa USF dari Tunisia, saya mendapatkan bis nomor 14. Diiringi hujan gerimis yang dingin saya memasang sepeda di depan bis. Ini adalah pengalaman pertama saya sehingga saya tidak tahu bagaimana cara membuka tempat sepeda tersebut. Setelah agak lama mencoba tetap tidak bisa, pak sopir dengan wajah masam turun membantu saya. Sebenarnya petunjuknya ada di cat body bis bagian depan, tetapi saya belum pernah melihatnya.

Ketika turun dari bis di Williams Park, terminal bis di tengah kota, saya mabil sepeda dan membetulkan tempat sepeda ke posisi semula. Sopir bis yang tadi merengut kepada saya sekarang tersenyum ramah melihat saya sudah berusaha dan berhasil. Sepeda kemps ban tersebut saya bawa ke halte bis lainnya, nomor 4 yang akan melewati 4 St S. Saya sudah menggunakan bis selama seminggu pertama sehingga sudah hafal semua halte di terminal ini.

Saya sampai di rumah sudah pukul 16:05 dengan baju dan celana yang agak basah. Dengan badan yang kedinginan saya segera merebus air dan memanaskan sup pemberian Patricia kematin pagi dengan microwave oven. Sup dipanaskan 10 menit, kemudian kentang potong dimasak dengan microwave 8 menit. Sup dan kentang tersebut adalah menu makan siang saya yang sangat terlambat. Walaupun demikian kesempatan untuk shalat Jumat hari ini merupakan karunia yang sangat besar yang tidak terbeli dengan apapun. Alhamdulillahi rabbil alamin.    

 (Imam Bachtiar, Saint Petersburg, 11 Desember 2009)

About these ads

Single Post Navigation

2 thoughts on “SHALAT JUMAT PERTAMA DI SAINT PETERSBURG

  1. Tarbiyatul banin on said:

    wah jadi kepengen mas, Muslim disana gimana mas
    NEWS
    Terbukti, Penelitian Universitas AS bahwa Muslim itu Bukan Teroris

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/01/09/terbukti-penelitian-universitas-as-bahwa-muslim-itu-bukan-teroris/

    TUKERAN LINK YUKK

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com

    • Terima kasih kunjunannya. Muslim di sini konon sekitar 2000 orang. Tampaknya mereka terbagi dalam tiga masjid yang ada. saya hanya sempat shalat di dua masjid saja. Masjid Al Mukmin merupakan masjid yang 100% berbahasa Inggris, yang juga menjadi Islamic Center. Masjid Al Sunnah merupakan masjid yang banyak dikunjungi oleh orang keturunan Arab. Khutbahnya pakai dua bahasa: khotbah pertama pakai bahasa Arab, khutbah kedua pakai bahasa Inggris yang langsung disambung do’a. Jamaah Al Mukmin jauh lebih ramah dan terasa sekali persaudaraan antar muslim. Ssebagai orang baru saya langsung disapa dan dipeluk. Di masjid As Sunnah tidak ada satupun jamaah yang menegur saya secara khusus. Jika ketemu di dekat masjid paling sekedar ucapan salam saja. Saya setuju tukar menukar link.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: