Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

INISIATIF PEMBANGUNAN MASJID DI GPI

Pada tahun 1996, warga Griya Pagutan Indah (GPI) belum memiliki sebuah masjid. Inisiatif untuk membangun masjid juga belum muncul sebagai pemiikiran dan keinginan bersama warga muslim yang ada. Sebagian besar warga masih tinggal di Jl. Tanjung Ringgit, Jl. Batu Layar, dan Jl. Pantai Komodo. Sebagian besar rumah yang sudah terbangun saat itu masih belum berpenghuni, bahkan belum laku terjual. Rumah-rumah yang sudah terbeli juga belum ditinggali oleh pemiliknya. Rawannya kondisi keamanan merupakan alasan utama banyaknya rumah yang tidak laku atau telah terjual tetapi tidak berpenghuni. Lampu penerangan jalan sangat baik pada saat itu. Sepanjang jalan yang sudah terbangun memiliki lampu penerangan jalan yang selalu menyala pada malam hari. Karena itu, pada malam hari kompleks GPI sangat terang, dengan rumah-rumah yang kosong. Banyaknya rumah yang kosong membuat para pengganggu keamanan lebih leluasa bergerak dan menyelinap di antara rumah-rumah tersebut. Hal ini membuat warga yang ingin pindah masuk ke GPI menjadi semakin ragu-ragu.
Pada awal bulan Ramadlan tahun 1996, warga GPI masih berjumlah kurang dari 30 keluarga. Semua warga masih bernaung di dalam satu RT, yang diketuai oleh Fairuzzabadi, sekarang tinggal di Jl. Banda Sraya. Pada malam pertama bulan Ramadlan, Fairuzzabadi mengajak warga muslim untuk berkumpul di di Jl. Pantai Sira 28, sebuah rumah yang belum terjual, untuk menyambut bulan suci Ramadlan dengan melakukan shalat Tarawih bersama. Fairuzzabadi telah meminjam sebuah rumah tersebut untuk dijadikan sebagai tempat shalat Tarawih berjamaah. Aliran listrik diambil dari rumah Fairuzzabadi yang berada di belakangnya. Fairuzzabadi bertindak sebagai imam shalat, sedangkan Taa’mim merupakan muazin pertama di dalam tarawih berjamaah pertama tersebut. Sebagian besar jamaah adalah laki-laki, sedangkan istri dan anak perempuan mereka menjaga rumah.
Pada malam-malam inilah sangat terasa perlunya memiliki sebuah masjid, tempat warga muslim dapat melakukan shalat berjamaah dengan nikmat. Ketika keinginan untuk membangun sebuah masjid terlontar dari Fairuzzabadi, yang menjadi satu-satunya ustadz saat itu, semua warga jamaah shalat Tarawih menyambut dengan keinginan yang sama. Situasi ekonomi pada saat itu, sayangnya, masih sangat sulit. Semua jamaah yang hadir merupakan pegawai negeri, yang gajinya telah banyak (minimal sepertiga) dipotong bank untuk membayar angsuran rumah dan kebutuhan yang lainnya. Kenyataan itu membuat sebagian warga merasa agak pesimis untuk menjawab pertanyaan sudahkah waktunya kita membentuk panitia pembangunan masjid?
Sebagai kesepakatan akhir dari warga yang optimis dan pesimis maka dibuatlah panitia kecil persiapan pembangunan masjid. Sebagai ketuanya dipilih secara in absentia Achmad Gozali (almarhum), dosen STAIN Mataram yang waktu itu sedang belajar S2. Walaupun sudah membeli sebuah rumah di Jl. Pantai Teluk Nara, pada saat itu Achmad Gozali hanya sempat beberapa minggu menjadi penghuni GPI, kemudian berangkat kuliah S2. Fairuzzabadi didaulat menjadi Wakil Ketua yang akan menjalankan tugas sebagai ketua selama Achmad Gozali belum tinggal di GPI. Jamaah shalat Tarawih yang lainnya juga kebagian jabatan kepengurusan, misalnya Anwar, Mustofa, Ta’amin , Wibowo, Imam Bachtiar, Solikhin, Zainal Arifin, Panji Priatna, Saefuddin, dan sejumlah warga lainnya. Walaupun panitia kecil ini sangat sederhana, Anwar yang ditunjuk sebagai bendahara mampu mengumpulkan dana pembangunan masjid sebesar Rp 300 ribu, dari infak seorang hamba Allah di GPI. Pada saat itu, uang tersebut setara dengan gaji pokok sebulan seorang pegawai negeri golongan tiga.
Jamaah shalat Tarawih yang pertama ini sangat sedikit. Jamaah shalat semuanya laki-laki, karena saat itu kondisi keamanan masih sangat rawan. Sebagai imam shalat yang utama adalah Fairuzzabadi. Achmad Gazali (alm.) sempat pula beberapa kali menjadi imam shalat sebelum berangkat ke Jakarta untuk kuliah S2. Pernah suatu hari jamaah tarawih hanya tiga orang. Taa’min bertindak sebagai imam shalat, sedangkan Anwar, dan Ram (pemuda Jempong) sebagai makmumnya. Malam itu Fairuzzabadi datang terlambat. Begitu Taa’mim salam menutup shalat, ia melihat Fairuzzabadi di belakang dan langsung tertawa karena sedikitnya jamaah shalat.
Pada saat itu, belum ada nama yang muncul untuk dijadikan nama masjid yang akan dibangun kelak. Bagi panitia persiapan pada saat itu yang penting adalah ditetapkannya niat bersama untuk membangun masjid dan mulai melihat peluang-peluang untuk mewujudkan impian tersebut, yaitu sebuah masjid milik warga GPI. Sebagai Ketua RT, Fairuzzabadi mendatangi Kantor Perumnas dan melihat lokasi yang disediakan untuk tempat ibadah. Ada tiga lokasi rumah ibadah yang disediakan oleh pengembangan GPI, Perum Perumnas: 1) di antara Jl. Pantai Tanjung Ringgit dan Jl. Pantai Batu Layar, 2) di Jl. Pantai Kuta, dan 3) di Jl. Pantai Candi Anom. Dari ketiga lokasi tersebut sebagian warga menginginkan lokasi di Jl. Pantai Candi Anom sebagai calon lokasi masjid GPI, walaupun sebagian lainnya memilih lokasi pertama karena sebagian besar warga tinggal dekat dengan lokasi pertama. Pemilihan lokasi di Jl. Pantai Panji Anom didasarkan pada alasan bahwa masjid yang akan dibangun hendaknya menjadi milik seluruh warga GPI dan lokasi tersebut nantinya akan terletak di tengah-tengah kompleks GPI.
Setelah bulan Ramadlan berlalu, Fairuzzabadi secara informal mulai melontarkan usulan calon nama masjid di GPI yang membuat semua orang kaget, yaitu masjid ‘Alhamdulillah’. Sebuah calon nama masjid yang sangat unik karena mungkin belum pernah digunakan di Indonesia, atau bahkan mungkin di seluruh muka bumi. Sebagian warga muslim merasa khawatir dengan nama yang kurang lazim tersebut. Dikhawatirkan bahwa penggunaan ‘Alhamdulillah’ sebagai nama masjid merupakan pelanggaran pada aturan agama Islam. Wacana nama masjid ‘Alhamdulillah’ ini terus berlanjut tanpa saingan hingga semester pertama tahun 1997, karena panitia persiapan lebih banyak berkonsentrasi untuk mencari dana pembangunan.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: