Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

MASUKNYA WAKAF MASJID KELUARGA H.M. ACHWAN

Rejeki yang diberikan Allah tidak dapat dihitung secara matematis. Jika seorang mau bekerja keras dan tidak berputus harap atas kemurahan-Nya, maka Allah akan memberikan rejeki dengan cara yang tak disangka-sangka. Di dalam pembangunan pondasi tersebut, seluruh dana pembangunan telah terkuras habis. Beberapa bulan kemudian kegiatan pembangunan masjid berhenti. Dalam masa istirahat ini, panitia bekerja lebih keras untuk mendapatkan dana tambahan untuk rencana pembangunan tahap berikutnya. Banyak dana yang masuk tetapi belum cukup untuk melakukan satu tahapan setelah pondasi. Penyebaran proposal pembangunan masjid semakin diperluas untuk di kawasan Pulau Lombok.
Salah satu penerima surat permintaan bantuan tersebut adalah Keluarga H. M. Achwan (almarhum), di Jl. Pancaka, Kelurahan Gomong, Mataram. H.M. Achwan adalah mantan Kabid Dikmenum Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTB, yang wafat pada tahun 1997. Sebelum wafat almarhum mempunyai niat untuk membangun sebuah masjid yang akan diberinya nama Masjid Al-Achwan. Walaupun almarhum sudah memiliki tanah wakaf yang luas untuk masjid dan sekolah di suatu tempat, tetapi membangun masjid bukanlah sesuatu yang mudah. Di Pulau Lombok, setiap kampung atau bahkan tingkat lingkungan sudah memiliki minimal sebuah masjid. Karena itu, pembangunan masjid baru tidak dapat dilakukan dengan mudah, sehingga niat membangun masjid tersebut belum terlaksana hingga beliau wafat. Di GPI, almarhum H.M. Achwan memiliki seorang keponakan Ani Mariani, yang menjadi istri Imam Bachtiar, di Jl. Pantai Sira 18.
Ketika proposal datang, ahli waris Keluarga H.M. Achwan sedang mencari tempat untuk wakaf sebuah masjid dengan nama Masjid Al-Achwan. Karena itulah Ny. Hj. Dewi Achwan segera menghubungi keponakannya, Imam Bachtiar, yang tinggal di GPI. Keluarga H.M. Ahwan sebenarnya menginginkan wakaf tanah sekaligus bangunan masjid. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukan di GPI, karena tanah yang akan digunakan adalah tanah untuk fasilitas umum. Karena itu, Imam Bachtiar, Suhardi Andung dan warga GPI lainnya harus meyakinkan Ny. Hj. Dewi Achwan bahwa tanah untuk masjid di GPI tidak akan diganggu-gugat baik oleh warga GPI maupun oleh Perum Perumnas.
Keinginan Keluarga H.M. Achwan untuk membangun masjid di GPI yang memang sedang membutuhkannya semestinya sangat mudah. Ibaratnya ada pemberi dan ada penerima wakaf masjid yang tepat. Tetapi keinginan pemberian nama masjid yang berbeda dikhawatirkan menjadi masalah bagi warga GPI. Warga muslim GPI telah mempunyai nama masjid “Al-Maghfirah”, sedangkan Keluarga H.M. Achwan menginginkan nama masjid “Al-Achwan”. Jika nama masjid ‘Al-Achwan’ dipaksakan, dikhawatirkan sebagian warga menjadi berkurang dukungannya sehingga masjid yang terbangun tidak dapat ‘dimiliki’ oleh warga muslim GPI. Rasa memiliki masjid merupakan komponen yang sangat penting di dalam pandangan panitia pembangunan. Jika masjid terbangun tetapi warga muslim enggan memakmurkannya, akan menjadi masalah yang berkepanjangan di kemudian hari.
Panitia pembangunan masjid mengadakan rapat umum, di Jl. Pantai Sira 22, yang mengundang semua Ketua RT. Pada saat rapat tersebut, panitia mencoba mencari sejumlah opsi berupa penawaran yang akan diajukan kepada Keluarga H.M. Achwan karena berapa besar dana yang akan diwakafkan oleh Keluarga H.M. Achwan juga belum jelas pada malam itu. Rapat tersebut memutuskan untuk memberi sejumlah alternatif penggunaan nama “Achwan” berdasarkan jumlah dana yang akan disumbangkannya. Jika seluruh masjid akan dibangun, maka masjid tersebut dapat diberi nama Al-Achwan, sedangkan nama-nama lembaga pendidikan di masjid akan menggunakan nama Al-Maghfirah, misalnya TPQ Al-Maghfirah.
Besoknya Imam Bachtiar membawa informasi yang lebih jelas, bahwa keluarga H.M. Achwan ingin mewakafkan sebuah masjid utuh dengan nama Al-Achwan. Walaupun keinginan tersebut tidak bertentangan dengan hasil rapat, tetapi sebagian warga masih tidak mau kehilangan nama Al-Maghfirah yang telah menjadi bagian sejarah dari warga GPI. Di dalam rapat terbatas dan mendesak di berugak, yang terletak di pojok lapangan Jl. Pantai Sira, pada suatu malam habis shalat ‘Isya, panitia mencoba member alternatif untuk kompromi. Nama masjid akan diberi nama Al-Achwan Maghfurullah dengan kompensasi bahwa semua unit kegiatan di dalam masjid diberi nama Al-Achwan Maghfurullah. Rapat mendadak di berugak ini dihadiri oleh Fairuzzabadi, Imam Bachtiar, Suhardi Andung, Umar, Zainal, Lalu Darmawan dan Slamet Mawardi.
Agar Keluarga H.M. Achwan tetap mau menggunakan nama belakang Maghfurullah maka panitia mencoba memberikan penjelasan yang akan disampaikan melalui Imam Bachtiar. Kata ‘Maghfurullah’ diambil dari nama ‘Al-Maghfirah” sebagai jejak sejarah keinginan warga muslim GPI. Kata ‘Maghfurullah’ sekaligus juga sebagai do’a dan penghormatan bagi almarhum H.M. Achwan yang semasa hidupnya ingin mewakafkan sebuah masjid. Umar bahkan sempat mengatakan jikasaja negosiasi nama ini sulit tercapai, kita dapat menawarkan ukuran besar nama yang tidak sama, seperti tulisan di bungkus rokok Gudang Garam Internasional. ‘Gudang Garam’ ditulis dengan ukuran yang lebih besar daripada ukuran tulisan ‘Internasional’. Umar mengatakan bahwa warga rela tulisan ‘Al-Achwan’ ukurannya lebih besar daripada tulisan ‘Maghfurullah’ , yang penting sejarah masjid bernama Al-Maghfirah yang menjadi simbol semangat warga GPI tidak hilang begitu saja.
Upaya-upaya tersebut, Alhamdulillah, dapat berhasil. Keluarga H.M. Achwan dengan ikhlas bersedia menerima nama ‘Al-Achwan Maghfurullah’ tanpa harus membedakan ukuran huruf tulisannya. Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa segala upaya harus tetap dilakukan untuk mempertahankan sesuatu yang kita anggap layak dipertahankan. Pemberian nama bukanlah urusan yang sederhana, tetapi merupakan jejak sejarah yang tidak mudah ketika kita sedang melaluinya.
Pada saat itu, kompleks perumahan GPI bukanlah satu-satunya di kompleks perumahan yang memiliki masalah dana pembangunan masjid. Masih banyak kompleks perumahan lain yang juga membutuhkan masjid tetapi tidak mempunyai dana pembangunan, misalnya Telagawaru dan Mavilla. Lokasi-lokasi tersebut merupakan pesaing dari kompleks GPI dalam memperebutkan wakaf masjid yang sedang dibawa oleh Keluarga H.M. Achwan. Apalagi pada kuartal terakhir tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang sangat buruk sehingga nilai tukar rupiah terhadap dollar menurun 700%. Penurunan nilai rupiah terhadap dollar juga sangat mempengaruhi harga bahan bangunan dan daya beli masyarakat. Dalam kondisi seperti itu sangat sulit untuk mencari sumbangan dari para dermawan yang menjadi donator, apalagi menemukan dermawan yang akan mewakafkan sebuah masjid. Pada saat itu, Masjid Al-Maghfirah di Kompleks GPI masih berupa pondasi bangunan dengan tiang-tiang utama. Ukuran pondasi tersebut 10×10 meter yang merupakan pondasi bangunan utama.
Ibarat mendapat durian runtuh, pada bulan Rajab 1419 H atau Nopember 1998, kompleks perumahan GPI dipilih oleh Keluarga H.M. Achwan untuk menerima wakaf sebuah masjid. Desain arsitektur masjid dibuat ulang oleh Ir. Umar Haq, pemilik perusahaan konsultan C.V. Bina Cipta. Masjid akan dibuat satu lantai dengan luas 15×15 meter, karena pondasi yang telah tertanam untuk bangunan satu lantai. Semua kebutuhan masjid juga akan ditentukan oleh Umar Haq. Warga GPI yang memiliki waktu dan pengetahuan di bidang konstruksi, Suhardi Andung (almarhum), menyediakan waktu dan tenaganya untuk menterjemahkan keinginan Ny. Hj. Dewi Achwan ke dalam konstruksi masjid yang sedang dalam tahap pembangunan.
Suhardi Andung (almarhum) memang menyatakan merasa menjadi orang yang paling bahagia dengan masuknya wakaf keluarga H.M. Achwan. Walaupun ia masih rajin memungut sumbangan warga, dari pintu ke pintu, ratusan rumah, setiap bulan; tetapi ia tidak lagi membayangkan akan melakukan pekerjaan yang sulit dan butuh kesabaran itu puluhan tahun. Bagi Suhardi Andung yang mengusulkan nama “Al-Maghfirah” , ia rela nama masjid diganti dengan apa saja asalkan baik dan disepakati warga; asalkan masjid di GPI segera menjadi kenyataan.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: