Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

PELAKSANAAN KONSTRUKSI MASJID AL ACHWAN

Proses pengerjaan pembangunan masjid diserahkan kepada Sadio, yang juga warga GPI, di Jl. Pantai Teluk Nara. Sebenarnya  Hj. Dewi Achwan hanya ingin mempercayakan proses pembangunan kepada H. Umar Haq. Tetapi Umar Haq juga sedang sibuk dengan pekerjaan yang terlanjur ditanganinya, sehingga pelaksanaan pembangunan tertunda beberapa bulan dan kurang lancar. Ketika Sadio menawarkan diri untuk membantu pelaksanaan pekerjaan pembangunan masjid, Umar Haq dapat menyetujuinya setelah mengetahui bahwa Sadio adalah adik kandung Ir. Sadiman, seorang pengusaha konstruksi yang terkenal baik, lurus dan alim.  Sadio mengerjakan pembangunan masjid tanpa kontrak dan upah, walaupun pernah ada gossip yang salah bahwa pembangunan masjid dikontrakkan ke Sadio.

Untuk menghemat biaya pembangunan Umar Haq membeli kayu dari Kabupaten Lombok Timur. Kayu-kayu tersebut kemudian dikerjakan oleh tukang di dekat Jl. Pantai Gili Meno. Pada suatu waktu kayu yang dibeli Umar Haq dari Lombok Timur dikirim ke GPI dengan sebuah truk. Kayu tersebut akan digunakan untuk sebagai gording, reng dan usuk. Anak buah truk yang membawa kayu ternyata tidak jujur. Sebagian kayu diklaim sebagai milik orang lain yang juga dititipkan kepada mereka. Setelah dikonfirmasi ulang ke Umar Haq, ternyata anak buah truk telah mengurangi kayu masjid yang dititipkan kepadanya.

Merasa tertipu, Suhardi Andung mengajak Imam Bachtiar untuk mencari truk yang digunakan mengangkut kayu tadi malam. Setiap toko di Sweta ditanya tentang truk mereka, apakah ada truk yang digunakan mengangkut kayu dari Lombok Timur tadi malam. Setelah sejumlah toko didatangi akhirnya ada sebuah toko yang mengaku pemilik truk tersebut, sehingga dapat ditemukan sopir dan keneknya. Mereka mengaku bersalah dan akan mengembalikan kayu-kayu tersebut hari itu juga. Hampir saja ada tragedi berdarah ketika mereka mengembalikan kayu-kayu tersebut ke GPI. Suhardi Andung yang langsung merasakan sulitnya mengumpulkan uang sumbangan masjid sangat marah melihat ada kayu masjid yang diambil orang.

Pekerjaan konstruksi bangunan masjid yang didanai oleh keluarga H.M. Achwan secara keseluruhan memakan waktu 5 (lima) bulan, dari April hingga September 1999. Pekerjaan finishing, instalasi listrik dan pengecatan berlangsung sekitar sebulan, sehingga masjid sudah siap digunakan pada akhir Oktober 1999. Selama proses pembangunan masjid yang telah didanai oleh keluarga H.M. Achwan, Sadio dan Suhardi Andung memegang peranan yang sangat besar. Sadio adalah pengusaha konstruksi jalan dan bangunan, yang pada saat itu merupakan satu-satunya pengusaha yang mengerjakan konstruksi baja. Ia yang mengatur irama pembangunan masjid dan menyediakan tukang. Suhardi Andung adalah seorang sarjana ilmu sosial politik yang memahami dan berpengalaman di bidang konstruksi bangunan.  Suhardi Andung merupakan juru bicara warga dalam komunikasi dengan Keluarga H.M. Achwan yang berkaitan dengan pembangunan masjid. Suhardi Andung menghabiskan sebagian besar waktunya di lokasi pembangunan masjid, dengan pekerjaan mengawasi tukang dan suplai bahan bangunan.

Di dalam proses pembangunan masjid Al-Achwan Maghfurullah tersebut, warga muslim GPI juga tidak tinggal diam. Walaupun seluruh masjid akan dibangun oleh keluarga H.M. Achwan, keramik lantai di dalam masjid merupakan hasil kontribusi dari warga GPI. Pada bulan Agustus 1999, panitia mengadakan rapat di dalam masjid yang belum jadi dan meminta warga untuk menyumbang keramik. Dengan cepat warga GPI menyambut tantangan tersebut dan dalam semalam seluruh keramik yang dibutuhkan dapat diperoleh dari warga. Pekerjaan pembuatan atap dengan konstruksi baja juga mendapat banyak sumbangan dari warga. Sadio menyumbangkan peralatan las dan tukangnya yang sedang tidak sibuk, sedangkan Zaenal serta warga lainnya menyumbangkan minuman dan jajan untuk tukang yang sedang mengerjakan konstruksi baja tersebut. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan kecintaan warga terhadap masjid yang sedang dibangun.

Penyerahan masjid kepada warga GPI dilaksanakan pada saat acara peringatan hari Isra’ Mi’raj, hari Minggu tanggal 7 Nopember 1999 (28 Rajab 1420 H). Saat itu kondisi keamanan masih belum baik, sehingga setiap perayaan hari-hari besar agama dilakukan pada sore hari, biasanya setelah shalat ‘Ashar. Pada acara serah terima tersebut, Hj. Dewi Achwan mewakili keluarga H.M. Achwan menyerahkan kunci masjid kepada ketua Pengurus, Syarifuddin.  Disamping mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan, Syarifuddin atas nama seluruh pengurus juga berjanji untuk memakmurkan masjid dan memelihara bangunannya.

Di dalam pidato sambutan serah terima masjid tersebut, Camat Suchrowardi menyatakan keterkejutannya. Biasanya jika seorang camat melakukan peletakan batu pertama, maka camat penggantinya atau bahkan pengganti dari penggantinya yang akan meresmikan penggunaan masjid tersebut. Masji Al-Achwan Maghfurullah, sangat istimewa, karena dalam dalam waktu satu sekitar setengah tahun sejak peletakan batu pertama masjid tersebut sudah dapat digunakan. Apalagi hal ini terjadi pada masa krisis moneter yang sangat parah di Indonesia.

TGH Mustiadi di dalam tauziahnya menyatakan penghargaan kepada keluarga H.M. Achwan yang telah mewakafkan sebuah masjid untuk warga GPI yang memang sedang bekerja keras untuk memiliki sebuah masjid. Beliau juga menyatakan bahwa warga GPI telah menyelamatkan ‘sabuk beliau’ sehingga tidak rusak. Beliau berpesan agar masjid yang telah dikaruniakan Allah melalui wakaf keluarga H.M. Achwan tersebut dapat dimakmurkan oleh warga GPI.

Memang tidak ada seorangpun yang memperkirakan bahwa masjid di GPI dapat selesai dalam waktu satu setengah tahun dari peletakan batu pertama. Kondisi krisis ekonomi yang menandai proses pembangunan masjid tersebut juga menunjukkan bahwa hanya Rahmat Allah SWT yang mampu mewujudkannya. Do’a warga muslim GPI bersama TGH Mustiadi telah dikabulkan oleh Allah dalam waktu yang relatif singkat.

Setelah sebuah bangunan masjid  berdiri di GPI, Suhardi Andung semakin berperan di dalam pembangunan fasilitas masjid berikutnya, misalnya tempat wudlu dan pagar masjid. Pembuatan tempat wudlu didesain dan dikerjakan oleh Suhardi Andung dengan dukungan dana dari Keluarga H.M. Achwan. Sedangkan pembuatan pagar dikerjakannya dengan dukungan dari dana masjid. Pagar besi dan pintunya yang dipasang di sebelah utara masjid berasal dari bekas pagar dan pintu di rumah keluarga H.M. Achwan.

Sumbangan warga bagi kelengkapan fasilitas masjid juga sangat besar. Kerangka baja tower air disediakan oleh Sadio, sedangkan bak penampung air di tower merupakan sumbangan dari Subandrio. Instalasi listrik di dalam masjid dikerjakan oleh Mustofa dan Hari Rudianto. Instalasi sound system dikerjakan oleh Iwan. Lampu kristal di dalam masjid adalah sumbangan dari Ny. Hj. Aliyah Akasah, warga Perumnas Tanjung Karang yang mempunyai keponakan di GPI.

Secara umum pelaksanaan pekerjaan konstruksi hingga finishing Masjid al-Achwan Maghfurullah tidak menemui kendala yang berarti. Kendala-kendala kecil yang tercatat adalah percobaan pencurian kayu kiriman dari Lombok Timur oleh truk pengantar yang kemudian dapat dikembalikan lagi; dan pencurian sejumlah kayu dari masjid. Agar hilangnya kayu tersebut tidak menimbulkan masalah dengan keluarga H.M. Achwan, maka dana simpanan masjid digunakan untuk mengganti kayu yang hilang tersebut.

Single Post Navigation

2 thoughts on “PELAKSANAAN KONSTRUKSI MASJID AL ACHWAN

  1. Semoga panitia dan takmir tetap diberikan kesehatan lahir dan batin dan dapat melanjutkan pelaksanaan pembangunan Al Achwan. Amin.
    Umar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: