Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN MASJID

Bencana dan karunia pada dasarnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Pada setiap kejadian, kita dapat melihatnya dari kedua sisi tersebut. Sisi yang satu disebut bencana atau musibah, sedangkan sisi lainnya disebut karunia atau hikmah. Bagi orang yang pandai memetik hikmah, setiap kejadian yang datang adalah karunia yang selalu dapat disyukurinya. Pada skala individu hal ini lebih mudah dilakukan daripada pada skala masyarakat, karena kebaragaman anggota masyarakat. Walaupun demikian, setiap musibah pada suatu masyarakat dapat dijadikan sebagai motivasi untuk berjuang lebih keras lagi. Pembangunan masjid di GPI juga berkaitan dengan musibah yang membawa hikmah.
Pada awal tahun 1998, terjadi musibah kematian warga muslim yang pertama di GPI, yaitu Ibu Bambang. Karena belum ada masjid di dalam GPI, maka jenazah rencananya akan dishalatkan di sebuah masjid yang terdekat di luar GPI. Di luar dugaan, jenazah tersebut tidak diperkenankan oleh pengurus masjid untuk dishalatkan di sana. Warga GPI tidak menjadi anggota lingkungan atau banjar dari masyarakat di sekitar masjid tersebut, sehingga rencana shalat jenazah di masjid tersebut tidak boleh dilakukan. Peristiwa yang membawa keprihatinan bagi warga GPI ini telah memberikan hikmah yang besar, yang memberikan kekuatan dan tekat besar untuk segera memiliki masjid sendiri.
Pada rapat hari Rabu, tanggal 1 April 1998 (3 Dzulhijjah 1418 H), panitia memutuskan untuk segera memulai pembangunan masjid. Pada saat itu dana pembangunan yang terkumpul berjumlah sekitar Rp 7,8 juta, dengan pemasukan dari sumbangan warga bulanan sekitar Rp 300 ribu. Di dalam rapat tersebut diputuskan bahwa panitia akan segera mempersiapkan undangan dan upacara peletakan batu pertama. Di dalam rapat disepakati bahwa peletakan batu pertama akan dilaksanakan pada tanggal 7 April 1998, bertepatan dengan lebaran Idul Ad’ha. Untuk mempersiapkan acara tersebut akan dilakukan penggalian lubang pada hari minggu pagi, tanggal 5 April 1998.
Persiapan penggalian lubang dilakukan sejak hari Kamis, 2 April 1998. Karena petugas penentu arah kiblat tidak dapat hadir untuk membantu warga GPI dalam minggu tersebut, maka penentuan arah kiblat dilakukan bersama-sama oleh Sadio, Edy Sophiaan, Fairuzzabadi dan warga yang lainnya berdasarkan buku Petunjuk Penentuan Arah Kiblat milik Mustofa (Ketua RT 02). Pada sore hari, benang-benang dan patok penanda calon lokasi masjid sudah terpasang. Surat undangan juga sudah tercetak untuk difotokopi dan ditandatangani. Panitia mengundang TGH Mustiadi, Camat Ampenan, Kepala Lurah Pagutan, Kepala Lingkungan Peresak Timur, dan Kepala Lingkungan Jempong. Karena Camat Ampenan sedang dalam proses pergantian, maka pengiriman surat undangan untuk camat mengalami penundaan. Camat Ampenan yang baru, Suchrowardi, dilantik pada tanggal 4 April 1997 atau tiga hari sebelum peletakan batu pertama.
Pada hari Jum’at pagi, jamaah shalat Subuh di mushalla Jl. Pantai Sira 20, yaitu Anwar, Taa’mim, Suhardi Andung, Slamet Mawardi, Lalu Darmawan dan dokter Triadi, pergi ke lokasi calon masjid setelah shalat berjamaah di mushalla Jl. Pantai Sira 22. Mereka ingin memulai penggalian lubang sepagi mungkin, dengan berbekal cangkul dari Suhardi Andung dan lampu penerangan dari Lalu darmawan. Warga GPI yang pertama kali mencangkul lubang pondasi masjid adalah Anwar, yang kemudian diikuti oleh kelima warga di dalam rombongan Jum’at pagi tersebut. Sayangnya cara mencangkul Anwar menyebabkan putusnya benang-benang di sekitar lubang pondasi yang digunakan dalam setting lokasi masjid. Putusnya benang-benang tersebut menimbulkan ‘pertengkaran kecil’ di antara jamaah shalat Subuh tersebut, terutama antara Suhardi Andung dengan Anwar. Untungnya Suhardi Andung dapat memperbaiki posisi benang-benang yang putus pada pagi hari itu juga.
Pada hari Jum’at tersebut tiga orang panitia, yaitu Fairuzzabadi, Slamet Mawardi dan Imam Bachtiar, menemui Bapak Syarifuddin di kantor Perum Perumnas. Tim tiga ini meminta ijin untuk segera membangun masjid dengan peletakan batu pertama pada haris Selasa. Pada saat itu surat ijin tertulis dari Perum Perumnas belum ada. Sulitnya pengeluaran ijin tertulis karena panitia menginginkan adanya perubahan pembagian tanah di calon lokasi masjid. Pembagian bidang tanah yang di dalam site plan ke arah utara selatan ingin diubah panitia menjadi kea rah timur barat. Perubahan tersebut tidak dapat diputuskan oleh Kantor Perumnas Mataram karena merupakan kewenangan Kantor Cabang di Surabaya. Setelah empat bulan berlalu, ternyata surat dari Kantor Perumnas Surabaya tidak kunjung tiba. Karena itu, panitia pada hari itu meminta persetujuan lisan dari Perumnas untuk melakukan peletakan batu pertama dengan pembagian tanah ke arah barat-timur.
Pada hari Minggu pagi, warga muslim GPI bergotong-royong mencangkul untuk penggalian tanah tempat pondasi. Penggalian tanah bukan pekerjaan yang mudah bagi warga GPI yang sebagian besar pekerja kantor atau guru. Karena itu beberapa penggali sumur dari Jempong juga dikerahkan untuk mempersiapkan lubang pondasi masjid. Pada hari itu juga, spanduk yang mengabarkan akan dilakukannya peletakan batu pertama pembangunan masjid dipasang. Gotong-royong dalam rangka pembangunan masjid yang pertama ini sangat ramai. Hampir seluruh warga muslim GPI datang dan turut bekerja.
Pada hari Selasa, 9 Dzul-Hijjah 1418 H atau 7 April 1998, warga bergotong royong membuat tenda dari terpal setelah shalat ‘Idul Adha. Terpal besar disediakan oleh Sri dan Mulyono, yang tinggal di Jl. Pantai Gili Meno. Sedangkan kayu dan tali disediakan oleh warga yang lainnya. Pada acara gotong-royong pagi hari itu, panitia baru menyadari bahwa tanggal hijriyah di dalam spanduk salah, seharusnya tertulis 9 Dzul-Hijjah tetapi tertulis 10 Dzul-Hijjah. Kesalahan penulisan tanggal tersebut dikoreksi dengan menempelkan kertas putih bertuliskan angka 9 pada angka 10 pada spanduk yang berwarna hijau tersebut.
Peletakan batu pertama pondasi masjid berlangsung dengan sangat baik. Seluruh warga muslim GPI hadir dalam acara tersebut. Suasana yang gembira dan khidmat sangat tampak pada wajah warga muslim GPI. Lepas shalat ‘Ashar, para undangan sudah mulai datang ke lokasi pendirian masjid, walaupun kondisi cuaca sedang gerimis. Undangan lain yang hadir pada acara tersebut adalah H. Hamdi sebagai Kepala Lingkungan Jempong, Syaiful Hidayat dari Perumnas Mataram, dan Lalu Muchlis dari Kantor Kecamatan Ampenan. Acara yang dipandu oleh Umar, dimulai dengan sambutan Ketua Panitia, sambutan Camat dan tauziah dari TGH Mustiadi, pimpinan Pondok Pesantren Darul Falah. Lokasi Masjid Al Maghfirah memang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Ponpes Darul Falah. Berdasarkan pengamatan satelit dari Google-earth posisi geografis masjid Al-Maghfirah adalah 8O36’39,48”Lintang Selatan dan 116O06’18,43” Bujur Timur.
Di dalam sambutannya Camat Sachruwardi menjelaskan kedudukannya sebagai camat yang baru dilantik empat hari yang lalu. Beliau mohon maaf jika tidak dapat memberikan sumbangan materi sebanyak yang diinginkannya untuk pembangunan masjid ini. Walaupun demikian, beliau akan menyerahkan sebuah amplop berisi uang yang disediakan oleh istrinya sebelum berangkat. Semoga sumbangan yang ikhlas tersebut dapat diikuti oleh para donator lainnya.
Di dalam tauziahnya, TGH Mustiadi memotivasi warga muslim untuk bekerja keras mendirikan masjid yang akan dibangun. Disamping itu, TGH Mustiadi juga berpesan secara berkelakar di dalam pidatonya: “Jangan merusak sabuk saya”, yang berarti bahwa warga GPI harus optimis dan bekerja keras agar masjid tersebut dapat segera terwujud. Jika masjid tersebut nantinya tidak juga segera terwujud maka TGH Mustiadi akan merasa malu atau sabuk hajinya rusak. Pesan ini merupakan motivasi tambahan bagi warga GPI untuk mengerahkan semua upaya membangun masjid. Menimpali kegelisahan yang dilontarkan oleh camat, TGH Mustiadi mengatakan di dalam tauziahnya: ‘Saya tidak punya uang tetapi saya punya do’a”. Beliau kemudian mengajak warga untuk bersama-sama membaca surat Al-Insyiriah bersama-sama, agar Allah membantu upaya warga untuk memiliki sebuah masjid.
Acara peletakan batu pertama dilanjutkan dengan makan masakan kambing bersama. Hari itu dapat dianggap sebagai hari pertama warga GPI melakukan qurban. Tiga ekor kambing dimasak oleh ibu-ibu sejak pagi harinya. Ketiga ekor kambing tersebut adalah seekor merupakan urunan kelompok pengajian Yasiin, dua ekor lainnya merupakan qurban dari keluarga Suhardi Andung dan Imam Bachtiar. Acara makan bersama tersebut dilakukan di depan rumah Suhardi Andung, Jl. Pantai Sira 20.
Hari Minggu berikutnya, warga bergotong-royong lagi melakukan pengecoran pada lubang-lubang pondasi masjid yang lainnya. Kegembiraan dan kekompakan dalam gotong royong tersebut hanya dapat digambarkan di dalam hati para pelakunya. Sangat sulit untuk menggambarkan dengan kalimat, bagaimana antusiasme warga muslim GPI yang melihat mimpinya hampir menjadi kenyataan. Warga laki-laki datang dengan membawa peralatan kerja konstruksi, misalnya cangkul, serok, dan ember. Sadio membawa mesin pengaduk material beton, yang asapnya tampak sangat indah. Ibu-ibu juga tidak mau kalah, mereka datang ke lokasi dengan membawa beragam makanan dan minuman. Peristiwa seindah ini sungguh hanya dapat terjadi sekali dalam kehidupan bermasyarakat di GPI.
Pondasi masjid yang dibangun pada tahap pertama ini berukuran 10×10 m. Pembanguna slope yang menghubungkan antar lubang pondasi dilakukan oleh tukang. Tinggi pondasi bangunan masjid sekitar satu meter dari permukaan tanah. Pondasi masjid tidak dapat dibuat untuk desain dua lantai sebagaimana rencana awal. Sulitnya mencari dana pembangunan merupakan alasan utama sehingga gambar masjid yang ada di proposal tidak lagi dapat dipedomani. Masjid yang akan dibangun didesain untuk satu lantai saja. Pembangunan pondasi masjid tersebut menelan biaya sekitar Rp 4,3 juta. Setelah pondasi terbangun, kemudian dilakukan pengurugan tanah di sebidang tanah ukuran 10×10 meter tersebut. Sadio menyediakan truk dan tanah sedangkan warga lagi-lagi bergotongroyong untuk meratakannya. Pekerjaan gotong-royong ini merupakan perekat dari semua warga muslim GPI bahwa masjid di GPI milik bersama semua warga GPI dan untuk dapat digunakan oleh seluruh warga.
Pada saat itu, penggalangan dana pembangunan dari dalam dan luar GPI terus berjalan. Pencarian dana dari luar GPI bahkan dilakukan semakin gencar. Suhardi Andung berhasil mendapatkan banyak dana dari Telkom dan para pengusaha asal Sulawesi Selatan dan Sumbawa. Proposal ke Gubernur NTB saat itu, Harun Alrasyid, sayangnya menemui hambatan sehingga proposal tidak pernah sampai ke tangan beliau. Anwar dan Taa’mim yang mendapat tugas tersebut telah mencoba untuk bertemu gubernur di kediaman resminya. Sayangnya upaya tersebut gagal karena ada kegiatan tidak terjadwal yang membuat gubernur pergi ke Senggigi meninggalkan mereka berdua yang sedang menunggu. Setelah peristiwa tersebut mereka tidak pernah mencobanya lagi.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: