Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

PEMBANGUNAN MASJID AL ACHWAN

Sejarah berdirinya sebuah masjid tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya masyarakat (komunitas) muslim di sekitar masjid tersebut. Bagi warga muslim pada umumnya, masjid bukan sekedar tempat shalat berjamaah, melainkan juga pusat pendidikan dan pembinaan umat. Di kompleks perumahan Griya Pagutan Indah (GPI), Kota Mataram, disamping sebagai tempat shalat berjamaah, taman pendidikan dan perayaan hari-hari besar Islam, masjid juga merupakan tempat penyelenggaraan aqiqah, akad nikah perkawinan, dan penanganan jenazah. Masjid Al-Achwan di GPI telah berperan sebagai pusat kegiatan ibadah warga muslim dari kelahiran hingga kematiannya.
Sejarah sebuah masjid merupakan jejak dinamika masyarakat muslim yang mendirikannya. Jejak tersebut tampak dalam pemberian nama masjid, tata cara ibadah yang dilakukan di dalamnya, dan kepengurusan takmir masjid tersebut. Keragaman jamaah shalat yang memakmurkan suatu masjid juga dapat mencerminkan persatuan warga muslim yang menyemangati pendirian masjid tersebut. Masjid yang makmur yang didatangi oleh jamaah dari berbagai golongan merupakan tanda adanya persatuan di kalangan warga muslim.
Pendirian sebuah masjid bukan sekedar membangun sebuah konstruksi berkubah melainkan juga membangun masyarakat muslim yang bersatu. Kemakmuran sebuah masjid dapat terjadi jika tumbuh rasa memiliki di hati para jamaah. Berdirinya Masjid Al-Achwan di GPI merupakan hasil perjuangan semua warga muslim GPI. Perum Perumnas sebagai pengembang kompleks GPI menyediakan tanah untuk rumah ibadah, sedangkan pembangunan masjid diusahakan sendiri oleh warga muslim yang bermukim di GPI. Kompleks perumahan GPI yang berjumlah .. unit rumah, dibangun secara bertahap sejak tahun 1995. Penghuni pertama kompleks GPI adalah Mustofa, di Jl. Pantai Komodo. Penghuni GPI pada awalnya banyak yang tinggal di Jl. Pantai Komodo, Jl. Pantai Tanjung Ringgit dan Jl. Pantai Batu Layar.
Pada awal berdirinya kompleks GPI, yaitu terbentuknya lembaga Rukun Tetangga (RT) 01, para warga telah bersepakat bahwa lingkungan kompleks GPI menjadi kompleks perumahan kota yang bernuansa kampung. Walaupun GPI termasuk dalam wilayah Kota Mataram dan warga di GPI sangat heterogen, setiap warga GPI hendaknya tetap saling mengenal, dan saling menyapa ketika berjumpa di jalan. Ketika warga GPI masih terdiri atas 2-4 RT, suasana perkampungan yang saling mengenal dan saling menyapa tersebut masih dapat terus dilakukan. Setelah jumlah warga GPI semakin banyak, semakin sulit untuk mengenal wajah dan mengingat nama mereka. Pada saat ini warga GPI sudah jauh berkembang menjadi 16 RT. Walaupun tradisi perkampungan tersebut semakin sulit dilakukan, semangat untuk tetap saling mengenal dan menyapa sebaiknya tetap dipertahankan dan selalu diupayakan. Warga yang lebih sering berjamaah di masjid akan lebih banyak mengenal tetangganya sehingga lebih mudah untuk menyapanya.
Berdasarkan proses pendirian shalat Tarawih di bulan Ramadlan, warga muslim penghuni GPI dapat dibagi menjadi tiga gelombang pemukiman. Gelombang pertama adalah warga muslim yang telah bermukim di GPI ketika shalat Tarawih dilakukan di Jl. Pantai Sira 28, sebuah rumah kosong yang dipinjam sementara selama bulan Ramadlan 1996. Gelombang kedua adalah warga muslim yang menjadi penghuni GPI ketika shalat Tarawih dilaksanakan di Jl. Pantai Sira 22, rumah keluarga Suhardi Andung (almarhum). Warga muslim gelombang kedua tersebut datang antara tahun 1997-1999. Gelombang ketiga adalah warga muslim yang tinggal di GPI pada saat shalat Tarwih sudah dilaksanakan di Masjid Al-Achwan Maghfurullah.
Masing-masing periode gelombang pemukiman tersebut warga muslim memiliki tugas, peran dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan kondisi yang tersedia. Pada periode gelombang pertama, warga muslim GPI merintis persiapan rencana pembangunan masjid dan membangun pola dasar hubungan bermasyarakat antar warga GPI. Pada periode kedua, warga muslim GPI berjuang merencanakan dan melaksanakan pembangunan masjid. Sedangkan periode ketiga adalah ketika warga muslim GPI telah memiliki masjid dan berjuang untuk memakmurkan masjid.
Pada periode pertama, warga GPI telah berhasil membangun masyarakat yang saling mengenal, saling menyapa, saling membantu, dan bergotongroyong mengatasi setiap masalah sosial yang bersifat kolektif. Semangat kekeluargaan dan kekompakan warga tersebut juga tercermin di dalam membangun masjid di GPI, yang sekarang bernama Masjid Al-Achwan Maghfurullah. Sejak periode awal ini semua warga menginginkan sebuah masjid yang netral, tidak berkaitan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu, yang dapat dimiliki dan dimanfaatkan oleh seluruh warga muslim di GPI. Masjid di GPI ini juga diharapkan dapat digunakan oleh umat islam dari luar GPI yang memang sangat membutuhkannya, misalnya shalat jenazah bagi perantau (musafir).
Di dalam perjalanan pembangunan masjid di GPI, nama masjid yang digunakan berubah beberapa kali. Perubahan-perubahan nama untuk masjid di GPI berjalan secara adaptif dan kooperatif. Bermula dengan wacana pemberian nama masjid “Alhamdulillah” (1996-1997), kemudian berubah menjadi nama masjid yang diputuskan warga “Al-Maghfirah” (1997-1999), yang berganti menjadi “Al-Achwan Maghfurullah” (1999-2007), dan akhirnya bernama “Al-Achwan” (2007-sekarang). Proses perubahan nama tersebut merupakan bagian dari sejarah berdirinya masjid di GPI, yang mencerminkan semangat untuk terus memperbaiki diri.
Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk mencatat proses pembangunan masjid di GPI, sebagai bagian dari sejarah berdirinya lingkungan GPI. Sebagian besar catatan ini ditulis berdasarkan kesaksian dari warga yang terlibat di dalam pembangunan masjid, dan sejumlah dokumen surat menyurat yang ada di dalam arsip para pelaku sejarah. Walaupun tidak semua peristiwa dapat direkam di dalam buku ini, dan tidak semua nama-nama pelaku sejarah dapat tertuliskan, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagaimana asal-usul pembangunan masjid Al-Achwan muncul sebagai wacana, kemudian digambarkan sebagai sebuah rencana, serta dilaksanakan dan dikembangkan sebagaimana yang ada sekarang ini.

Single Post Navigation

One thought on “PEMBANGUNAN MASJID AL ACHWAN

  1. Semoga panitianya senantiasa semangat dan tetap menggelar rapat rutin panitia untuk memberikan sport kepada jamaah sehingga pembangunan dapat erjalan terus. amin. Umar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: