Pagutanindah's Blog

Griya Pagutan Indah, Mataram, NTB, Indonesia

PEMBENTUKAN PANITIA PEMBANGUNAN MASJID

Di dalam pembangunan sebuah masjid, panitia merupakan mesin yang bekerja untuk mewujudkan impian warga menjadi kenyataan, yaitu berdirinya sebuah masjid yang dicita-citakan. Tiidak semua pembangunan masjid memiliki mesin yang bagus. Alhamdulillah, di dalam pembangunan Masjid Al-Achwan Maghfurullah mesin tersebut bekerja dengan sangat baik. Semua jalan menanjak yang ada di depan mata telah mampu dilewati secara hampir sempurna. Harmonisasi semangat antar komponen di dalam mesin tersebut telah terbukti dapat menaklukkan semua tantangan. Harmonisasi komponen di dalam proses pembangunan bahkan lebih baik dibandingkan ketika bangunan fisik masjid sudah menjadi sebuah kenyataan.
Harmonisasi di dalam sebuah kepanitian hanya dapat terjadi jika setiap komponen bekerja dengan keikhlasan dan kesabaran. Kedua modal utama tersebut dijumpai sangat besar di dalam panitia pembangunan Masjid Al-Achwan Maghfurullah. Kehadiran TGH Mustiadi sebagai penasihat spiritual seluruh warga GPI pada saat itu berperan penting untuk menyatukan semua motivasi menjadi sebuah kekuatan besar. Kekuatan cinta untuk memiliki sebuah rumah ibadah, dimana kita dapat bersujud dan berdo’a dengan hikmat dan nikmat ke hadirat Allah SWT. Sebuah rumah ibadah yang Insya Allah akan melindungi anak-anak dan cucu-cucu penerus kita dari erosi mental dan moral yang dibawa oleh peradaban global.
Di dalam proses perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Achwan Maghfurullah, ada dua periode kepanitiaan yang sebenarnya terdiri dari orang-orang yang sama. Perubahan kepanitiaan tersebut dapat diibaratkan hanya pergantian roda belakang dengan roda depan pada sebuah mobil. Ketika velg roda depan tidak balance maka jalan mobil menjadi terhambat. Karena keempat ban mobil sama bagusnya, maka roda belakang ditukar dengan roda depan sebagai solusinya. Pergantian tersebut adalah pertukaran posisi antara Anwar yang sebelumnya sekretaris dengan Imam Bachtiar yang sebelumnya wakil ketua. Jika semua komponen telah mampu bekerja secara harmonis Insya Allah tujuan yang jauh akan lebih cepat tercapai.

a) Panitia pertama (1997)
Pada tahun 1997, warga muslim yang menjadi penghuni baru di GPI meningkat dengan pesat. Sebagian. Deretan rumah di Jl. Pantai Sira sudah semakin ramai dengan penghuni baru. Perumahan di Jl. Pantai Gili Meno juga mulai semarak dengan banyak penghuni baru. Perumahan di kedua jjalan tersebut marupakan yang paling tepi pada saat itu, dan yang paling akhir ditinggali oleh pemiliknya. Di bagian lain dari kompleks GPI, warga muslim yang menjadi penghuni sudah banyak. Diperkirakan pada awal tahun 1997 jumlah warga muslim sekitar 40 keluarga, dan meningkat menjadi lebih dari 80 keluarga pada akhir tahun 1997. Di antara para warga muslim penghuni baru yang termasuk dalam gelombang pemukiman kedua, sebagian mempunyai peran penting di dalam proses pembangunan masjid di GPI. Warga muslim gelombang kedua yang berpartisipasi dalam panitia pembangunan masjid tersebut meliputi Syarifuddin, Suhardi Andung (almarhum), Slamet Mawardi, Lalu Darmawan, Zainal, dokter Triadi, Umar, Shohib, Sadio, Eddy Sophian, Haruman Taufik, U’us, Chamim Tohari dan sebagainya.
Ada kebiasaan yang unik di dalam lingkungan GPI yang masih dalam administrasi satu RT pada saat itu. Rapat pertemuan RT dilakukan setiap bulan, yang ditetapkan pada setiap malam bulan purnama. Rapat RT biasanya dilakukan di berugak Jl. Pantai Tanjung Ringgit atau di tengah lapangan di dekatnya. Pemilihan bulan purnama sebagai waktu rapat RT bukan disebabkan karena kurangnya penerangan jalan. Lapangan tersebut dikelilingi oleh empat lampu penerangan jalan yang sangat terang. Pemilihan bulan purnama tersebut lebih disebabkan oleh keunikan pribadi Ketua RT saat itu, Fairuzzabadi, dan kemudahan mengingat kapan rapat RT perlu dilakukan. Begitu melihat bulan purnama, warga langsung ingat bahwa malam itu ada rapat RT.
Bertambahnya warga di GPI membutuhkan pelayanan administratif warga yang lebih banyak, sehingga diperlukan pemekaran RT. Pada pertengahan tahun 1997, warga GPI membentuk RT (rukun tetangga) baru, RT 02, yang meliputi seluruh warga di sebelah barat Jl. Pantai Sira. Ketua RT 02 yang pertama adalah Mustofa, sedangkan Ketua RT 01 masih dipegang Fairuzzabadi. Hubungan warga di kedua RT tersebut masih belum banyak berubah dari sebelumnya. Jadwal ronda juga belum dipisahkan. Rapat-rapat yang menghadirkan warga kedua RT dapat diundang oleh salah seorang Ketua RT saja.
Pada tanggal 4 September 1997 (2 Jumadil awwal 1418 H), atas nama pengurus kedua RT (01 dan 02) Mustofa mengundang seluruh warga muslim GPI untuk rapat pembentukan panitia pembangunan masjid. Pada malam itu, warga muslim GPI memiliki sebuah panitia pembangunan masjid untuk pertama kalinya. Panitia tersebut diketuai oleh Syarifuddin, dengan wakil Imam Bachtiar. Sebagai sekretaris panitia adalah Anwar, sedangkan bendahara dipegang oleh Slamet Mawardi. Ketua RT 01 dan RT 02 sebagai pelindung panitia pembangunan masjid. Dokumen atau catatan tertulis tentang susunan panitia yang pertama ini tidak dapat ditemukan, tetapi pada dasarnya sangat mirip dengan panitia pembangunan yang kedua.
Panitia pembangunan yang pertama ini mempunyai tugas untuk menyelesaikan urusan administrative pembangunan masjid dan mencari dana pembangunan. Dari sekitar tiga kali rapat di sebuah berugak di Jl. Pantai Tanjung Ringgit, telah dapat diputuskan calon lokasi masjid dan nama masjid yang akan dibangun. Lokasi masjid yang sebelumnya disepakati di Jl. Pantai Tanjung Anom, semakin diperkuat oleh sejumlah warga baru yang mulai mengisi kompleks perumahan GPI. Penentuan nama masjid dilakukan secara voting. Ada tiga nama masjid yang diusulkan yaitu ‘Alhamdulillah’, ‘At-Taqwa’ dan ‘Al-Maghfirah’. Dari rapat pleno warga muslim memutuskan bahwa nama masjid ‘Al-Maghfirah’ sebagai nama masjid di GPI. Nama tersebut merupakan usulan dari Suhardi Andung (almarhum). Penggalangan dana dari warga GPI ditetapkan mulai berlaku pada bulan berikutnya, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Suhardi Andung.
Proses penentuan nama masjid bukanlah urusan yang mudah bagi warga GPI. Warga menginginkan sebuah nama yang special yang diharapkan belum digunakan oleh masjid yang lainnya. Dari ribuan masjid yang dikenal oleh warga, ternyata mencari nama special tersebut tidaklah mudah. Sejak awal Fairuzzabadi, yang banyak dikenal dengan ide unik Abu Macel (TVRI NTB), sudah mempromosikan nama ‘Alhamdulillah’ sebagai calon nama masjid di GPI. Nama masjid ‘Alhamdulillah’ memang tampaknya belum pernah digunakan orang, tetapi sebagian orang khawatir apakah penggunaan nama tersebut akan menyalahi aturan di dalam agama Islam. Walaupun Fairuzzabadi yang juga seorang ustadz di Pondok Pesantren Darul Falah menyatakan bahwa penggunaan nama unik masjid tidak menyalahi aturan Islam, tetapi sebagian warga muslim masih belum terbiasa dengan sesuatu yang sama sekali baru. Pada rapat terakhir penentuan nama masjid, Suhardi Andung (alm) mengusulkan nama masjid ‘Al-Maghfirah’. Disamping kedua nama tersebut juga muncul nama masjid ‘At-Taqwa’ yang diusulkan oleh Lalu Ridwan. Ketika ketiga nama tersebut dilontarkan di dalam rapat untuk disepakati, warga muslim yang hadir di dalam rapat memutuskan memilih nama masjid ‘Al-Maghfirah’.
Penggalangan dana dari warga GPI juga merupakan tugas yang sangat sulit. Rapat tanggal 4 September 1997, memutuskan bahwa sumbangan warga untuk masjid akan dilakukan dengan kunjungan pemungut (kolektor) dari pintu ke pintu setiap tanggal 10 mulai Oktober 1997. Suhardi Andung bertanggungjawab sebagai kolektor di RT 01 sedangkan Mustofa bertanggungjawab di RT 02. Di antara sejumlah warga yang pernah mencoba melakukannya, hanya Suhardi Andung yang memiliki ketekunan dan kesabaran dalam mengumpulkan uang sumbangan tersebut. Suhardi Andung juga menjadi pemungut yang paling produktif. Pada akhirnya, Suhardi Andung yang bertanggungjawab memungut sumbangan untuk masjid baik di RT 01 maupun RT 02.
Sebagian warga yang lain pernah mencoba menjadi pemungut sumbangan masjid, tetapi tidak menghasilkan dana yang berarti dan tidak tahan menghadapi warga yang berusaha menghindar dari pembayaran sumbangan masjid. Slamet Mawardi, Imam Bachtiar dan Ta’amim pernah bertiga mencari sumbangan untuk masjid dari sore hingga malam hari hanya memperoleh sumbangan dari dua warga. Kejadian yang hampir sama juga dialami oleh warga yang lain, misalnya Mustofa dan Umar yang menjabat ketua dan bendahara di RT 02.
Sumbangan warga untuk masjid berkisar antara Rp 500 hingga Rp 20 ribu, pada saat itu. Warga yang menjadi panitia diharapkan dapat memberikan sumbangan masjid lebih banyak daripada warga yang lainnya. Kecilnya dana yang dapat dikumpulkan dari warga GPI menimbulkan rasa pesimistis pada sebagian warga. Kapankah sebuah masjid dapat terbangun jika hanya mengandalkan dana dari warga GPI saja? Agar tujuan pembangunan masjid dapat lebih cepat tercapai, panitia melakukan perombakan susunan panitia untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Di dalam periode ini, sebuah majlis taklim dibentuk oleh Mustofa pada bulan Agustus 1997. Majlis taklim tersebut dilaksanakan setiap Kamis malam dengan acara pembacaan Surah Yaasiin dan kuliah tujuh menit (kultum). Majlis yang dikenal dengan kelompok yaasinan ini turut melengkapi perjalanan warga di dalam membangun masjid di GPI. Di dalam kelompok ini masalah-masalah pembangunan masjid sering didiskusikan, termasuk juga masalah sosial dan politik. Majlis ini telah banyak berperan di dalam memelihara dan meningkatkan keimanan warga GPI, sehingga semangat membangun dan memakmurkan masjid dapat terpelihara.
Secara umum, panitia pembangunan masjid yang pertama ini telah berhasil mempersiapkan persyaratan administrative pembangunan masjid di GPI, baik permintaan ijin ke Perum Perumnas sebagai pengembang, maupun ke Kantor Departemen Agama Kotamadya Mataram. Penggalangan dana dari luar GPI belum dapat dilakukan karena belum ada gambar rencana bangunan masjid dan anggaran biayanya.

b) Panitia kedua (1997-1998)
Pada bulan Desember tahun 1997, panitia pembangunan masjid tersebut mengalami perombakan. Panitia pembangunan masjid tetap dipimpin oleh Syarifuddin sebagai ketua dan Slamet Mawardi sebagai bendahara, sedangkan sebagai sekretaris ditunjuk Imam Bachtiar yang pada panitia sebelumnya sebagai wakil ketua. Pada kepanitiaan yang kedua ini, misi utamanya adalah mencari dana untuk pembangunan masjid. Sebagai kelengkapan dari upaya pencarian dana adalah gambar masjid yang akan dibangun dan rencana anggaran biayanya. Kedua hal tersebut dipersiapkan oleh Eddy Sophian, warga Jl. Pantai Tanjung Ringgit.
Gambar masjid direncanakan berukuran 10×10, berlantai dua, dengan luas lantai keseluruhan 200 m2. Rencana anggara biaya untuk membangun masjid tersebut Rp 41.500.000,- (empat puluh satu juta lima ratus ribu rupiah). Pembangunan tersebut rencananya akan dilakukan dalam lima tahapan. Pembiayaan pembangunan masjid diharapkan berasal dari swadaya warga muslim GPI, sumbangan dari lembaga/instansi pemerintah maupun swasta, dan sumbangan-sumbangan lain yang tidak mengikat. Angka anggaran belanja pembangunan masjid tersebut terasa sangat besar, mengingat sumbangan bulanan yang dapat diperoleh dari warga GPI sekitar Rp 200-300 ribu. Hal ini berarti kita harus menunggu 15-20 tahun untuk memiliki sebuah masjid di GPI. Karena itu, penggalangan dana dari luar GPI harus menjadi prioritas utama.
Penggalangan dana dari luar GPI dilakukan dengan menyebarkan surat permohonan bantuan kepada orang-orang yang potensial menjadi penyumbang (donator). Jika calon donator berada di Kota Mataram, maka panitia mendatangi langsung calon donator tersebut. Jika calon donator di luar Pulau Lombok, maka panitia berkirim surat yang berisi surat permintaan bantuan, rencana gambar masjid, rencana anggaran biaya, dan susunan panitianya.
Untuk mempercepat penggalangan dana, panitia mengirim banyak proposal kepada kenalan dan pejabat yang terkait dengan pembangunan GPI. Panitia juga menghimbau kepada warga jika memiliki kenalan yang potensial menyumbang masjid, maka panitia minta alamatnya dan akan mengirimkan proposal kepada yang bersangkutan. Disamping itu, panitia juga menyediakan proposal permintaan sumbangan masjid bagi siapa saja yang membutuhkannya. Dengan cara ini, banyak proposal terkirim kepada calon donator di luar GPI.
Ada cara yang kurang lazim yang dilakukan oleh panitia masjid saat itu untuk mencari dana. Panitia berkirim surat kepada puluhan (sekitar 60-70 alamat) Kepala Kantor Pos, yang hampir semuanya tidak dikenal, yang tersebar dari Pulau Sumatra hingga Pulau Papua. Ternyata cara yang kurang lazim ini tidak mendatangkan dana sebanyak yang diperkirakan. Ibaratnya menebar biji jagung di sembarang tempat. Ada yang tumbuh dan menghasilkan bulir, tetapi sebagian besar tidak dapat tumbuh. Walaupun demikian, jika dibandingkan biaya yang dikeluarkan dengan dana yang didapat, masih jauh lebih besar dana yang diperoleh dengan cara tidak lazim ini. Sebagian besar dana dari luar Pulau Lombok diperoleh dari orang-orang yang sudah dikenal secara pribadi oleh panitia.
Penyebaran proposal secara acak kepada puluhan Kepala Kantor Pos tersebut memang dilakukan berdasarkan lokasi kabupaten. Panitia memperkirakan bahwa di kabupaten yang mayoritas penduduknya muslim mempunyai Kepala Kantor Pos yang muslim pula. Asumsi yang tidak kuat ini ternyata memang seyogyannya tidak digunakan. Suatu hari panitia menerima sebuah surat balasan dari proposal yang terkirim tersebut yang menyatakan: “Maaf, saya seorang Kristiani”. Sejak itu panitia tidak pernah mengirim proposal pada alamat yang acak lagi.
Pada bulan Ramadlan tahun 1997, warga muslim GPI yang sudah lebih dari 80 keluarga berkumpul kembali untuk shalat Tarawih bersama di sebuah rumah di Jl. Pantai Sira 22. Pada saat itu, rumah tersebut sudah dimiliki oleh keluarga Suhardi Andung. Seluruh ruangan dipenuhi oleh jamaah shalat, sehingga dibutuhkan terpal untuk memberi tempat bagi jamaah wanita di belakang rumah.
Pada kebanyakan kesempatan sebagai imam shalat adalah Fairuzzabadi, Lalu Darmawan dan Sohib; sedangkan sebagai muadzin adalah Taa’mim dan Umar. Dalam beberapa kesempatan imam dan muazin digantikan oleh warga yang lain, ketika keempat warga tersebut berhalangan hadir. Pada kegiatan shalat Tarawih berjamaah tahun 1997 sudah mulai dijadwalkan kuliah tujuh menit setelah shalat ‘Isya. Shalat Tarawih dilakukan dalam delapan rakaat dan 20 rakaat. Sejak awal warga muslim GPI menginginkan persatuan di dalam kerberagaman ibadah yang bersifat khilafiyah.
Setelah bulan Ramdahan berlalu, rumah yang telah digunakan shalat Tarawih selama sebulan tersebut tetap berfungsi sebagai mushalla yang digunakan untuk shalat berjamaah lima waktu oleh warga di sekitarnya, terutama shalat-shalat ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya. Warga muslim GPI melaksanakan shalat Jum’at di berbagai masjid di sekitar GPI, misalnya Masjid Al-Hamidy di Peresak, Masjid …………… di kompleks Bumi Pagutan Permai dan Masjid ………..….. di Jempong.
Pada tahun 1998, sekitar 10 orang yang sering shalat Jum’at di masjid Al-Hamidy berinisiatif untuk belajar islam di Pondok Pesantren Darul Falah. Setiap Jum’at siang, mereka pergi ke pondok dan mendapat pengajaran langsung dari TGH Mustiadi. Para warga tersebut di antaranya Umar, Lalu Darmawan, Slamet Mawardi, Anwar, Ta’amim, Fairuzzabadi, Suhardi Andung, dan Imam Bachtiar. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa bulan. Umar dan Lalu Darmawan merupakan santri yang paling sering mengaji di pondok tersebut, sehingga sempat dibai’at untuk belajar tarekat.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: